Anjos Blog

Senin, 11 Mei 2020

Karena Surat Bupati Nias

Ganjar saat berada didepan kosan mahasiswa nias / sumber foto : humas.jatengprov.go id

Kemarin sore ( 10/5/2020) saya melihat video Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menyebar melalui media sosial facebook. Di video tersebut, Ganjar mengunjungi kos-kosan mahasiswa asal pulau nias yang terletak di Jl Papandayan Kota Semarang.

Dalam video yang dibagikan akun facebook marlinus halawa, terlihat Ganjar berpakaian santai dan tampak akrab berbincang-bincang dengan para mahasiswa. Ganjar pun memasuki kosan dan mengecek berbagai hal yang ada dalam kosan itu. Hingga memastikan bahwa para mahasiswa telah mendapatkan bantuan yang diberikan oleh Pemerintahannya. Ganjar juga membeli hasil karya tangan anak nias, berupa kue kering pada kesempatan itu.

Video yang berdurasi 12 menit 8 detik di akun marlinus halawa itu, saat tulisan ini dibuat telah dibagikan 488 kali dan dikomentari 144 kali. Dari komentar-komentar bisa kita lihat, tindakan ganjar mendapat apresiasi, terutama dari masyarakat pulau nias. Diakun-akun lain yang ikut membagikan video, pada kolom komentarnya juga banyak akun yang memberikan tanggapan positip atas apa yang dilakukan ganjar. Saya sendiri pun sangat mengapresiasinya.

Tapi siapa sangka, hari ini, Senin (11/5/2020) di berbagai media online terungkap bahwa kunjungan Ganjar tersebut merupakan permintaan Bupati Nias, untuk memastikan keadaan para mahasiswa asal nias. Itulah sebabnya dalam video kita melihat Ganjar memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menyampaikan pesan bahwa mereka baik-baik saja di semarang.

Semula saya masih meragukan, Bupati Nias mana yang menyurati Ganjar. Karena 4 kabupaten di Pulau Nias, menggunakan 'Nias' dalam penamaan daerahnya. Apalagi dalam video, saat mahasiswa bertanya, pada bupati nias mana yang disampaikan, Ganjar menjawab "ya Bupati kalian semua. Sampai akhirnya saya menemukan dalam situs humas.jatengprov.go.id, berita berjudul "Mahasiswa Nias di Jateng Gunakan Waktu Luang Untuk Produksi Kue Kering".

Dalam berita itu disampaikan, bahwa ganjar datang ke kosan saat sedang bersepada sore, itulah sebabnya pakaian ganjar terlihat santai. kedatangannya untuk memastikan kondisi para mahasiswa perantau. Selain itu, dia juga menjalankan permintaan Bupati Nias, Sokhiatulo Laoli.

"Saya itu beberapa waktu lalu disurati Pak Bupati Nias. Beliau minta tolong agar warganya yang ada di Jateng diperhatikan. Ini saya datang untuk memastikan anak-anak di sini semuanya sehat. Pak Bupati, anak-anakmu disini semuanya sehat dan berjanji tidak pulang," kata Ganjar dikutip dari humas.jatengprov.go.id.

Dengan demikian, Bupati Nias, Sokhiatulo Laoli juga seharusnya mendapatkan apresiasi dan pujian yang sama seperti diterima oleh Ganjar. Karena Bupati Nias menunjukkan kepeduliannya, yang bukan hanya berdampak pada mahasiswa asal Kabupaten Nias. Tetapi juga berdampak positip bagi mahasiswa asal Pulau Nias tanpa memandang wilayah administratif pemerintahan.

Wajar saja memang jika ada orang yang tidak mendapatkan informasi penuh, bahwa kunjungan ganjar merupakan permintaan Bupati Nias melalui surat. Karena itu terkait keingintahuan setiap orang yang berbeda-beda.

Tindakan yang dilakukan oleh Bupati Nias, sebaiknya ditiru oleh para kepala daerah lain di Pulau Nias. Agar setiap mahasiswa yang berasal dari Pulau Nias bisa dipastikan tetap dalam keadaan baik-baik saja.

Rabu, 22 April 2020

Jangan Dipaksakan Capaian Kurikulum


Saya jelas menghargai setiap usaha para guru yang mencoba memberikan materi pelajaran kepada peserta didik di situasi pandemi covid-19 sedang melanda indonesia. Namun ada beberapa cara yang menurut saya terkesan dipaksakan.

Dari berbagai arahan pemerintah, upaya kegiatan belajar mengajar agar dilakukan secara daring. Beberapa sekolah dengan fasilitas peserta didik yang memadai, upaya belajar daring pasti bisa dilakukan. Namum berbeda hal dengan peserta didik yang tidak memiliki perangkat seperti gawai, pembelajaran daring tentu tak bisa dilakukan.

Bahkan beberapa orang pun salah memahami pembelajaran daring, mereka menganggap bahwa cukup memberikan tugas melalui grup-grup kelas yang berisi peserta didik atau orang tua sudah melakukan pembelajaran daring. Padahal kalau hanya seperti itu tidak bisa disebut pembelajaran daring. Tetapi lebih tepatnya disebut pengiriman tugas secara daring. Namun seperti itu pun kita harus apresiasi, dari pada tidak melakukan apa-apa.

Jadi bagaimana yang disebut pembelajaran daring. Pembelajaran daring sebenarnya tidak ada ubahnya dengan kegiatan tatap muka seperti biasa, bedanya guru dan peserta didik berada dibeberapa tempat dan tetap melakukan interaksi. Seperti menggunakan aplikasi zoom, guru menjelaskan lalu siswa mendengarkan hingga terjadi proses tanya jawab. 

jika hal itu tidak bisa dilakukan, maka grup chatting seperti Whatsapp, telegram atau mesenggerlah menjadi tempat interaksi. Pembelajaran terlebih dahulu ditentukan waktunya. Setelah guru memastikan bahwa semua peserta didik sudah hadir di grup. Maka gurunya menyampaikan materi pelajaran dengan tertulis. Lalu peserta didik membaca hingga memahami, selanjutnya terjadi interaksi berupa penyampaian peryataan atau tanya jawab dan akhirnya pembelajaran ditutup dengan kesimpulan dan pernyataan bahwa belajar selesai.

Dilain sisi, kendala ketiadaan gawai tersebut justru membuat para guru kwatir bahwa peserta didiknya tidak belajar. Sehingga mereka berinisiatif atau bersepakat mendatangi rumah-rumah peserta didik. Dari beberapa foto di media sosial yang beredar, terlihat guru mengajar peserta didik. Beberapa diantaranya bahkan mengumpulkan beberapa orang peserta didik di satu rumah.

Niat yang baik seperti itu memang baiknya di apresiasi. Namun dalam kondisi wabah saat ini, niat demikian tentu sudah tidak sesuai dengan arahan pemerintah untuk diam dirumah. Itulah yang menurut saya terkesan dipaksakan para guru untuk dilakukan.

Pemerintah jelas mengatakan agar pembelajaran yang dilakukan tidak berfokus untuk menyelesaikan capaian kurikulum dan menyarankan agar pembelajaran pada kecakapan hidup terutama terkait covid 19. Bahkan pemerintah menyarankan para guru untuk tidak memberikan penilaian secara kuantitatif tetapi secara kualitatif. Artinya peserta didik itu tidak perlu diberikan nilai-nilai dalam bentuk angka. Cukup dengan peryataan-peryataan positif saja.

Apalagi, adakah jaminan bahwa guru yang mendatangi rumah-rumah itu dalam keadaan benar-benar sehat. Ada banyak pasien positif covid-19 tidak mengalami sedikit pun gejala yang umum dialami. Jangan sampai guru menjadi pembawa virus kepada rumah keluarga yang didatanginya. Pembawa virus yang tidak mengalami gejala sakit ini sekarang lebih dikenal dengan istilah silent carrier.

Lalu bagaimana solusi agar peserta didik terus belajar, sementara gurunya tidak bisa menyampaikan tugas karena peserta didik tidak punya gawai. Solusinya tidak usah dipaksakan untuk menyampaikan materi pelajaran, toh juga para peserta didik itu tidak akan tiba-tiba menjadi tidak mampu memahami  jika tidak belajar sesuai capaian kurikulum. Karena kita tahu sendiri ada banyak orang-orang berhasil bukan karena capaian-capaian akademik disekolah.

Apalagi setiap anak itu adalah tanggung jawab orang tuanya masing-masing. Orang tua yang peduli pada kemampuan anaknya pasti mengarahkan dan mengingatkan anaknya untuk belajar. Bahkan bisa saja dengan situasi saat ini para orang tua jadi punya lebih banyak kesempatan untuk mengajarkan anaknya tentang kecakapan hidup yang mungkin tidak didapatkan disekolah. Seperti memasak, membersihkan rumah atau bahkan berkebun.

Para guru tidak perlu merasa berdosa, karena saat ini suasanalah yang membuat kegiatan belajar mengajar disekolah menjadi berubah. Suasana ini juga seharusnya mengajarkan para orang tua, bahwa kemampuan anak itu tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru.

Rabu, 04 Maret 2020

Dari Pada Ahok Lebih Baik Azwar Anas


Ahok yang kini ingin dikenal dengan BTP bersama 3 orang lainnya yakni Bambang Brodjonegoro, Tumiyana dan Abdullah Azwar Anas telah diumumkan menjadi calon kepala Badan Otoritas Ibu Kota Negara (IKN).

Jabatan yang menurut Jokowi nantinya seperti CEO tersebut akan bertugas menyiapkan segala sesuatu terkait ibu kota baru yang telah ditetapkan di Penajam Paser Utara. Nantinya CEO yang ditunjuk dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. 

Perpres tentang badan otoritas tersebut pun menurut Jokowi akan segera ditandatangani, yang selanjutnya akan menetapkan nama CEO untuk badan tersebut.

Bambang Brodjonegoro yang sejak periode pertama Jokowi jadi Presiden telah masuk kabinet hingga saat ini menjabat Menristek, Tumiyana orang lama di BUMN yang saat ini menjabat Dirut PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dan BTP dengan segala kontroversialnya saat ini menjabat sebagai Komisaris Utama PT Pertamina. Ketiganya masih memiliki pekerjaan dijabatan mereka saat ini, untuk mendukung pekerjaan Jokowi.

Sementara Azwar Anas, saat ini menjabat sebagai Bupati Kabupaten Bayuwangi periode ke 2 dengan akhir masa jabatan Februari 2021 yang pilkadanya akan dilaksanakan September 2020 nanti. Dipastikan proses pemindahan ibukota yang rencananya dimulai awal 2021, saat itu azwar anas sudah tidak memiliki kesibukan utama lagi.

Jika Menjadikan BTP sebagai CEO Badan otoritas tersebut, Pemerintahan Jokowi bisa saja terlalu sibuk untuk mengklarifikasi berbagai isu yang akan dipermasalahkan terkait BTP. Sementara pembangunan Ibukota baru dipastikan akan menggandeng para investor. Mereka yang memiliki modal tentu tidak suka jika proses investasi diwarnai dengan kegaduhan dalam negeri.

Bicara soal investasi tentu terkait dengan pengusaha, dari ke empat nama hanya Tumiyanalah yang dikenal juga sebagai pengusaha. Selain lama di perusahaan negara dibidang konstruksi, Tumiyana juga dikenal sebagai pengusaha yang menjalankan bisnis peternakan sapi. Hampir sempurna, memahami konstruksi karena untuk pembangunan, namun Tumiyana bukanlah orang yang terlalu berani. Buktinya bisnisnya yang sudah beromzet 1,6 T dalam setahun, tidak membuatnya rela meninggalkan status pegawai BUMN nya. Bahkan bagi banyak orang pola bisnis yang dilakukan oleh Tumiyana adalah bisnis yang konservatif.

Sedangkan Bambang Brodjonegoro sebelum menjadi menteri adalah seorang akademisi, yakni Dosen FE UI sudah sangat tepat jika tetap menjabat sebagai kemenristek.

Dengan demikian Abdullah Azwar Anas, pria yang semenjak menjabat hingga 2019 kemarin selalu berhasil membuat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bayuwangi lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi secara nasional tersebut lebih tepat jika dijadikan Jokowi sebagai CEO Badan Otoritas itu.

Azwar Anas memiliki kemampuan seperti seorang CEO, terlihat dari kemajuan kabupaten bayuwangi. Padahal dulunya bayuwangi seperti sulit untuk maju. Karena jauh dari mana saja. 

Karena kemampuannya itu, dirinya kerap diundang dibeberapa daerah untuk memaparkan bagaimanacara menjadikan bayuwangi lebih maju dan berkembang.

Azwar Anas pun bukanlah sosok yang manut pada investor. Meski dirinya membutuhkan investor untuk menggerakkan ekonomi. Azwar tetap mengarahkan investasi sesuai dengan programnya. Salah satunya pembangunan themepark di Kabupaten Banyuwangi senilai Rp 150 miliar yang dikerjakan Jatim Park Group, Azwar Anas meminta ada wahana khusus yang mengangkat ciri khas lokal Banyuwangi, seperti Kawah Ijen dan Pantai Sukamade.

Bahkan untuk melindungi UMKM, Azwar membatasi pembukaan alfamart dan Indomaret di daerahnya. Bukan itu saja, berbagai prestasi dan inovasi pun telah banyak yang dilakukannya. Jika kita ketik namanya di pencarian google, yang muncul adalah berita baik semuanya.

Potensi seperti yang dimiliki Azwar, secara politik pun sangat mendukung dirinya sebagai CEO badan otoritas tersebut. Karena Azwar adalah kader PDI Perjuangan. Sebagai pria yang sangat berpotensi, akan sangat rugi jika Jokowi tidak segera memanfaatkan kemampuan Azwar. 3 calon lain jika pun tidak jadi sebagai CEO, masih memiliki jabatan untuk berkiprah. Sementara Azwar akan berakhir Februari 2020 nanti di pemerintahan.

Jadi dari pada Ahok lebih baik Azwar Anas yang pimpin badan otoritas ibu kota negara itu.

Jumat, 24 Januari 2020

Menyeriuskan Pulau Nias Jadi Restock Bibit Babi

Merebaknya wabah demam babi Afrika akibat virus African Swine Fever (ASF) yang terdeteksi telah menjangkiti 19 kabupaten/kota di sumatera utara yang menyebabkan kematian babi sejak 25 September 2019 membuat masalah yang bukan hanya dialami oleh usaha ternak babi.

Bagi pemilik ternak babi, sudah pasti kematian babi adalah kerugian secara materi. Dimana babi yang telah mati tidak bisa untuk dijual lagi. Sementara isu wabah yang menyebar di kalangan para konsumen pengguna daging babi menyebabkan menurunnya permintaan daging babi. Sementara babi yang masih sehat, besar kemungkinan akan terserang wabah di wilayah yang telah mengalaminya.

Bukan hanya itu, kematian babi yang begitu banyak, membuat pemiliknya kesulitan untuk melakukan penguburan. Ditempuhlah jalur cepat dengan membuang bangkainya ke sungai. sungai pun tercebar dan bau bangkai yang sangat menyengat mengganggu penduduk sekitar sungai. 

Salah satu contoh, Danau siombak yang ada di medan sempat tercemari bangkai babi dan akhirnya dibersikan oleh pemerintah provinsi sumatera utara. Ada 106 bangkai babi yang diangkat lalu dikuburkan di sekitar danau tersebut.

Parahnya Wabah demam babi Afrika di Sumatera Utara (Sumut) hingga mendapat perhatian serius dari Kementerian Pertanian dengan membuka 102 posko darurat. Data dari Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional, sampai pekan ke-2 Desember 2019, sudah 28.136 ekor babi di Sumut mati dan mungkin jika ada data terbaru angka tersebut bisa saja bertambah.

Muncullah kekwatiran terganggunya proses pembibitan babi di wilayah sumut yang terjangkiti wabah. Lalu diwacanakan Pulau Nias menjadi daerah penyedia bibit babi di sumut. Wacana tersebut disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, Azhar Harahap pada jumat (17/1/2020) yang lalu.

Bukan tanpa alasan melakukan pemilihan pulau nias sebagai wilayah untuk restock bibit babi. Pulau nias hingga saat ini masih bersih dari wabah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, Azhar Harahap juga menyampaikan bahwa setengah dari populasi ternak babi di sumut ada di pulau nias. Saat ini populasi babi ada 1,23 juta ekor di sumut.

Wacana tersebut pun mendapatkan sambutan baik dari Bupati Nias Selatan, Hilarius Duha dan Anggota DPRD Sumut Dapil Kepulauan Nias, Pendeta Berkat Laoli. Dua tokoh tersebut menyampaikannya melalui media online. Hingga saat ini juga belum ada terkabarkan penolakan atas wacana tersebut.

Lalu bagaimana proses wacana itu akan diwujudkan, karena wacananya adalah pembibitan, artinya akan ada sejumlah babi yang dijadikan induk untuk nantinya menghasilkan anak babi. Lalu setelah beberapa bulan dibesarkan, anak babi tersebutlah yang akan di distribusikan ke luar pulau nias ke wilayah-wilayah di sumut untuk dilanjutkan pembesarannya hingga layak jual. 

Untuk diketahui, ada 3 tipe babi yaitu babi tipe lemak, babi tipe daging dan babi tipe sedang. Perbedaannya dilihat dari bentuk dan daging serta lemak yang dihasilkan.

Meski pulau nias memiliki populasi babi yang tinggi, masih dijumpai masuknya babi hidup melalui jalur penyebrangan laut di pelabuhan. Pada 2010 yang lalu karena melihat hal tersebut saya sampai membuat tulisan " Beternak Babi Potensi Lapangan Pekerjaan". 

Jika wacana menjadikan Pulau Nias sebagai restock tersebut benar diseriuskan. Maka hal yang pertama dilakukan adalah dengan mengeluarkan aturan bahwa babi tidak boleh lagi masuk ke Pulau Nias untuk di jual. 

Dalam proses melakukan pembibitan perlu ada pelibatan masyarakat. Karena bisa saja proses pembibitan diserahkan kepada usaha ternak babi. Sehingga yang menguntungkan hanya pengusaha. Harusnya bantuan ternak diberikan juga kepada masyarakat secara perorangan atau kelompok, dengan kesepakatan, Anak babi yang dihasilkan nantinya dibagi secara proporsional.

Selasa, 10 Desember 2019

Jadi Pembaca Disway

Disway begitu dinamai blognya, merupakan akronomim dari Dahlan Iskan’s Way. Yah..mantan menteri BUMN era Susilo Bambang Yudhoyono ini meski tidak aktif lagi mengurusi 'surat kabar' namun masih terus menulis di blognya.

Blog yang menurut pemiliknya banyak mengulas tentang isu-isu luar negeri tersebut selalu ramah untuk dibaca.

"Selalu saja Hongkong terus. Tiongkok terus. Inggris terus. Amerika terus. Pakistan India terus. Dan juga Betepe terus", begitu menurut dahlan iskan isi blognya dalam tulisan yang berjudul Mu'min Mantu.

Ditulis dengan gaya bahasa percakapan sehari-hari membuat saya sebagai pembaca yang hampir setia (karena tidak tiap hari datang membaca dan tidak meninggalkan jejak komentar) dapat dengan mudah untuk dipahami.

Dengan membaca disway, pembaca akan dibawa seperti mengikuti secara nyata perjalanan dahlan iskan di setiap negara yang dikunjunginya. Situasi politik negara itu hingga objek wisatanya pun tak luput dari ulasannya.

Menariknya, dahlan iskan seperti mampu menerangkan apa konflik yang sebenarnya terjadi di daerah yang  sedang dikunjunginya. Mungkin naruli jurnalisnyalah yang melakukan itu.

Blognya berdomain disway.id yang hampir berusia dua tahun tersebut menurut saya sangat baik digunakan oleh penulis-penulis pemula seperti saya dalam merangkai kata.

Apalagi disway mampu membuat sebuah ciri khas dalam tulisannya yakni "i" untuk menyebutkan perempuan. Saat tulisannya mengatakan mobilnyi itu artinya pemilik mobil tersebut adalah perempuan. Bahkan untuk menggambarkan kecantikan seorang perempuan yang ditulisnya pun, dahlan iskan akan menyatakan jumlah "i". Semakin banyak jumlah "i", maka semakin cantiklah perempuan itu menurut dahlan iskan. Entah sejak kapan dan ditulisan mana itu bermula. 

Meski hanya sebuah blog, sejak Februari 2019 yang lalu disway.id dikelola secara profesional dengan kantor pusat di surabaya. Mungkin itu dilakukan karena pembaca disway sangat tinggi. Dari blog disway dinyatakan bahwa pembaca mencapai 5 juta.

Melihat beberapa negara diluar Indonesia, dapat dilakukan hanya dengan jadi pembaca disway.id, meski kadang saya lebih menginginkan dahlan iskan banyak menulis tentang Indonesia.

Kamis, 07 November 2019

Berjuanglah Faldo Maldini!

Pemuda yang masih berusia 29 tahun ini menarik perhatian saya sejak menjadi salah seorang juru bicara Prabowo pada pemilihan Presiden yang lalu. Hanya terpaut satu tahun lebih muda dari saya, tentu menambah kekaguman terhadap dirinya yang masih di usia muda. Sudah berkelas tokoh nasional.

Tidak pernah kenal secara langsung, namun awal mengenalnya saat muncul disalah satu acara televisi. Lalu menjadi pengikutnya di twitter. Dari setiap cuitannyalah mulai mengikuti kegiatan dan sedikit alur berpikirnya. Ditambah tontonan beberapa acara televisi dan video di youtube.

Saat hasil hitung cepat pilpres keluar, faldo mengeluarkan beberapa peryataan yang mengundang kontroversial rekan satu tim pemenangannya. Waktu itu saya berpikir, faldo akan segera menyatakan dukungan terhadap Jokowi. Teryata faldo tidak pernah melakukannya. Faldo hanya tidak ingin ikut larut disebuah hasil yang menurutnya sudah ada kepastian.

Gagal jadi anggota DPR RI, saya berpikir faldo pasti akan menjadi orang yang setiap saat akan secara nyinyir mengkritik Jokowi, teryata itu pun tidak dilakukannya. Dia justru meninggalkan hiruk pikuk tersebut, waktu itu belum terdengar dia akan berbuat apa.

Belakangan, terkabarlah faldo berkeinginan menjadi salah seorang kepala darah sumatera barat. Tapi terganjal karena usianya tidak sesuai dengan yang di persyaratkan oleh undang-undang. 

Bahkan PAN yang di partai itu dirinya menjabat sebagai wakil sekretaris jendral pun ditinggalkan, alasannya agar tidak menyebabkan kegaduhan di tubuh PAN atas pencalonanya sebagai kepala daerah. Karena proses pencalonannya harus dimulai dengan sebuah persidangan di mahkamah konstitusi untuk menguji pasal pada undang-undang yang mengatur persyaratan usia.

Hengkang dari PAN, Faldo masuk ke PSI, partai yang memberikan dukungan kepadanya untuk maju sebagai kepala daerah dengan slogan "Sumagaik Baru" yang memiliki arti semangat baru. Dukungan yang diberikan pun tidak tanggung-tanggung salah seorang pengurus PSI menjadi kuasa hukum faldo dalam melakukan uji materi di MK. Pria itu adalah rian ernest, pria yang sebenarnya kerap menjadi lawan debat faldo di pilpres.

Meski demikian, dua pria yang merupakan lulusan universitas indonesia ini dan sama-sama pernah aktif di BEM UI, teryata memiliki kedewasaan politik yang tinggi. Dalam acara QnA metro tv, mereka berdua mengakui perdebatan yang mereka lakukan semasa pilpres adalah perdebatan untuk memberi kesempatan masyarakat agar jauh lebih mengenal pasangan yang mereka dukung. Bukan perdebatan yang bersifat pribadi. Sehingga saat pilpres telah selesai tidak ada dendam yang terbawa-bawa.

Masih muda, sudah pernah menjabat wasekjen PAN, pernah juru bicara pasangan calon pilpres dan saat ini akan maju sebagai calon kepala daerah, menambah rentetan kekaguman saya terhadapnya. Bahkan kekaguman itu sampai pernah sengaja, mengungah di facebook, tangkapan layar profil twitter faldo yang saat itu masih menunjukkan tanggal lahirnya. Untuk menyatakan kekaguman terhadap usianya yang masih muda dengan perannya di pilpres itu.

Jika susah mengingat para pendiri bangsa ini, yang diusia muda mereka pun mampu melakukan banyak hal. Untuk dijadikan motivasi, seharusnya faldo layaklah dijadikan sebagai motivasi kaum milenial untuk berbuat bagi bangsa ini.

Selamat berjuang Faldo!

Rabu, 23 Oktober 2019

Nadiem Jadi Mendikbud

Nadiem Makarim, pendiri Gojek, perusahaan ojek online di Indonesia. Memulai usahanya dari sebuah garasi mobil. Sebelum menjadi layanan aplikasi berkelas decacorn, usahanya masih menggunakan call center. Jika ada pesanan, call center akan menelepon mintranya yang saat ini disebut driver untuk menjemput costumer.

Hari ini di umumkan oleh presiden, Jokowi sebagai pejabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Penetapan Nadiem sebagai Mendikbud tentu menunjukkan arah baru penanganan pendidikan di Indonesia. Jokowi pasti berharap, nadiem mampu menularkan semangat wirausahanya kepada siswa melalui tenaga pengajar.

Dibawah kepemimpinan nadiem, yang milenial, semoga arah pendidikan semakin menyiapkan generasi era 4.0. Generasi yang tak lagi mencari kerja di perusahan-perusahaan. Generasi yang tidak lagi mengeluh soal pencarian lapangan pekerjaan. Karena mereka adalah pencipta lapangan kerja. Lapangan kerja di industri kreatif.

Selamat bertugas pak Nadiem Makariem!
Ditunggu pidato pertamamu di Hari Guru Nanti!!
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done