Jangan Dipaksakan Capaian Kurikulum - Anjos Blog

Rabu, 22 April 2020

Jangan Dipaksakan Capaian Kurikulum


Saya jelas menghargai setiap usaha para guru yang mencoba memberikan materi pelajaran kepada peserta didik di situasi pandemi covid-19 sedang melanda indonesia. Namun ada beberapa cara yang menurut saya terkesan dipaksakan.

Dari berbagai arahan pemerintah, upaya kegiatan belajar mengajar agar dilakukan secara daring. Beberapa sekolah dengan fasilitas peserta didik yang memadai, upaya belajar daring pasti bisa dilakukan. Namum berbeda hal dengan peserta didik yang tidak memiliki perangkat seperti gawai, pembelajaran daring tentu tak bisa dilakukan.

Bahkan beberapa orang pun salah memahami pembelajaran daring, mereka menganggap bahwa cukup memberikan tugas melalui grup-grup kelas yang berisi peserta didik atau orang tua sudah melakukan pembelajaran daring. Padahal kalau hanya seperti itu tidak bisa disebut pembelajaran daring. Tetapi lebih tepatnya disebut pengiriman tugas secara daring. Namun seperti itu pun kita harus apresiasi, dari pada tidak melakukan apa-apa.

Jadi bagaimana yang disebut pembelajaran daring. Pembelajaran daring sebenarnya tidak ada ubahnya dengan kegiatan tatap muka seperti biasa, bedanya guru dan peserta didik berada dibeberapa tempat dan tetap melakukan interaksi. Seperti menggunakan aplikasi zoom, guru menjelaskan lalu siswa mendengarkan hingga terjadi proses tanya jawab. 

jika hal itu tidak bisa dilakukan, maka grup chatting seperti Whatsapp, telegram atau mesenggerlah menjadi tempat interaksi. Pembelajaran terlebih dahulu ditentukan waktunya. Setelah guru memastikan bahwa semua peserta didik sudah hadir di grup. Maka gurunya menyampaikan materi pelajaran dengan tertulis. Lalu peserta didik membaca hingga memahami, selanjutnya terjadi interaksi berupa penyampaian peryataan atau tanya jawab dan akhirnya pembelajaran ditutup dengan kesimpulan dan pernyataan bahwa belajar selesai.

Dilain sisi, kendala ketiadaan gawai tersebut justru membuat para guru kwatir bahwa peserta didiknya tidak belajar. Sehingga mereka berinisiatif atau bersepakat mendatangi rumah-rumah peserta didik. Dari beberapa foto di media sosial yang beredar, terlihat guru mengajar peserta didik. Beberapa diantaranya bahkan mengumpulkan beberapa orang peserta didik di satu rumah.

Niat yang baik seperti itu memang baiknya di apresiasi. Namun dalam kondisi wabah saat ini, niat demikian tentu sudah tidak sesuai dengan arahan pemerintah untuk diam dirumah. Itulah yang menurut saya terkesan dipaksakan para guru untuk dilakukan.

Pemerintah jelas mengatakan agar pembelajaran yang dilakukan tidak berfokus untuk menyelesaikan capaian kurikulum dan menyarankan agar pembelajaran pada kecakapan hidup terutama terkait covid 19. Bahkan pemerintah menyarankan para guru untuk tidak memberikan penilaian secara kuantitatif tetapi secara kualitatif. Artinya peserta didik itu tidak perlu diberikan nilai-nilai dalam bentuk angka. Cukup dengan peryataan-peryataan positif saja.

Apalagi, adakah jaminan bahwa guru yang mendatangi rumah-rumah itu dalam keadaan benar-benar sehat. Ada banyak pasien positif covid-19 tidak mengalami sedikit pun gejala yang umum dialami. Jangan sampai guru menjadi pembawa virus kepada rumah keluarga yang didatanginya. Pembawa virus yang tidak mengalami gejala sakit ini sekarang lebih dikenal dengan istilah silent carrier.

Lalu bagaimana solusi agar peserta didik terus belajar, sementara gurunya tidak bisa menyampaikan tugas karena peserta didik tidak punya gawai. Solusinya tidak usah dipaksakan untuk menyampaikan materi pelajaran, toh juga para peserta didik itu tidak akan tiba-tiba menjadi tidak mampu memahami  jika tidak belajar sesuai capaian kurikulum. Karena kita tahu sendiri ada banyak orang-orang berhasil bukan karena capaian-capaian akademik disekolah.

Apalagi setiap anak itu adalah tanggung jawab orang tuanya masing-masing. Orang tua yang peduli pada kemampuan anaknya pasti mengarahkan dan mengingatkan anaknya untuk belajar. Bahkan bisa saja dengan situasi saat ini para orang tua jadi punya lebih banyak kesempatan untuk mengajarkan anaknya tentang kecakapan hidup yang mungkin tidak didapatkan disekolah. Seperti memasak, membersihkan rumah atau bahkan berkebun.

Para guru tidak perlu merasa berdosa, karena saat ini suasanalah yang membuat kegiatan belajar mengajar disekolah menjadi berubah. Suasana ini juga seharusnya mengajarkan para orang tua, bahwa kemampuan anak itu tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru.

Bagikan di :

1 komentar

  1. Saya pun dibuatnya stres selaku orang tua.
    Pendapatan menurun drastis kebutuhan beli kuota meningkat tajam.
    Kalau bisa ya jangan dikit dikit internet. Kasihan orang tuanya.

    BalasHapus

Silakan Tinggalkan Komentar

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done